Ada twitter kematian menjadi menakutkan

Ada Twitter, Kematian Menjadi ‘Menakutkan’

Tak dapat dipungkiri, Twitter sudah menjadi media sosial yang tidak asing lagi di Indonesia. Hampir semua orang, terutama para remaja dan orang dewasa mempunyai akun Twitter. Tujuan penggunaannya pun beragam, mulai dari sekedar akun personal, komunitas, bisnis perseorangan atau kelompok perusahaan dan masih banyak lagi.

Menggunakan Twitter juga ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya adalah kita dapat berinteraksi dengan siapa saja, orang yang dikenal ataupun idola, memperoleh informasi paling update, hingga mengikuti ‘kultwit’ berbobot yang sering dilakukan oleh beberapa pemilik akun twitter ‘ternama’, atau biasa disebut selebtweet. Disamping itu, dampak negatif yang ditimbulkan salah satunya adalah kita sebagai pengguna terkadang merasa takut ketinggalan informasi terbaru, sehingga mendorong kita untuk terus menyempatkan ngetweet.

Bicara soal Twitter dan penggunaannya di Indonesia, kerap kali memunculkan hal-hal dan paradigma baru. Salah satunya adalah peristiwa kematian menjadi lebih ‘menakutkan‘. Bagaimana bisa?

Kematian tentu saja menakutkan. Ketika seseorang mengalami kematian dan pada waktu sebelum kematiannya dia mempublikasikan tweets, bisa dipastikan akun si almarhum(ah) akan kebanjiran mentions. Mulai dari ucapan turut berduka cita, penyesalan dari orang yang dikenal dan lain-lain. Sayangnya, semua mention yang masuk ke akun itu tidak dapat dibalas satu-persatu oleh si almarhum(ah) yang telah pindah ke alam yang berbeda. Bayangkan ! Betapa seramnya ! Apabila hal ini terjadi :

Ada twitter kematian menjadi menakutkan

Disamping itu, orang-orang biasanya akan menilai siapa si almarhum(ah) berdasarkan tweets terakhirnya. Pernah mendengar/membaca kalimat “don’t judge me by my tweets!” ? Tetapi kenyataannya adalah most of people judge you by your (latest) tweets.

Iya, akan terlihat menyenangkan apabila tweets terakhir yang dipublikasikan si almarhum(ah) adalah tweets yang baik, menyebarkan ilmu misalnya, atau mendoakan orang lain. Sudah pasti orang mendoakan kepergiannya karena dia orang baik. Tetapi lain halnya jika tweets terakhir yang dipublikasikan adalah tweets yang buruk, berkata kasar, memaki dan nyinyirin orang. Maka orang yang membacanya sontak berpikiran “Ah, sukurin. Dasar tukang memaki orang!”. Sungguh menyedihkan.

Coba saja jika acara sinetron religi yang dulu sering tayang masih ada hingga sekarang. Maka akan ada alur cerita nyata baru yang diambil, jika dulu berjudul Azab Seorang yang Suka Memfitnah dan si pelaku akan dihukum lidahnya ditarik hingga menjulur panjang, namun lain halnya dengan sekarang, Azab Seorang yang Suka Nyinyirin Orang di Twitter dan si pelaku akan dihukum jari-jari jempolnya ditarik hingga panjang menjulur. Naudzubillah. ~_~

Tulisan ini hanya bertujuan untuk mengingatkan para pekicau Twitter agar lebih cerdas dan berhati-hati dalam menggunakan akun Twitternya, syukur jika bisa terhibur dengan tulisan ini :p Lindungi jempolmu ^^

13 Responses

  1. Wih si Ijal keren juga postingannya. Gue juga mikir gitu sih, tapi gue udah jelasin kok kalau tweet gue tuh cuma pencitraan aja. Gue udah jelasin panjang lebar juga sik. Dan rajin-rajin minta maap.

    Maklum sih, skg tweet2 gue lucu. Dan lo tau kan lucu itu kebanyakan gimana ? Ya di ambil hikmahnya aja deh :))

  2. Wakakakakakakakaka…
    kayaknya gua pernah denger nih cerita-nya jal,hampir mirip sih kaya pas acara stand-up comedy, waktu itu salah satu perserta bawain banyolan itu, tapi lucu juga ini