polantas polisi tilang

Polisi atau Preman Pasar ?

Pagi itu (21/2/12), saya bangun agak siang karena semalam otak-atik template untuk tampilan baru. Sekitar pukul 7, saya langsung cuci muka dan bergegas untuk melaksanakan rutinitas saya baru-baru ini, yaitu mengantarkan kakak perempuan saya ke tempat kerjanya. Tidak sampai setengah jam, saya sudah kembali lagi kerumah dan segera mandi lalu menyantap sarapan dengan menu nasi kuning dan menunggu tayangan kartun yang saya senangi, Naruto Shippuden. Meski saya sedikit jengkel dengan tayangan Naruto di Global TV karena slogan dengan faktanya berbeda, slogan dari Global TV untuk kartun itu adalah “Naruto ! Dari season 1 sampai Shippuden” namun faktanya penayangan kartun Naruto di Global TV lebih tepat kita sebut “Naruto ! Dari Shippuden sampai season 1”.

Tayangan naruto selesai pukul 9, tidak lama kemudian saya segera berangkat ke tempat les dengan terburu-buru karena les dimulai pukul 9. Saya berangkat dengan sepeda motor, lengkap dengan memakai sebuah helm hadiah ulang tahun pemberian dari kakak perempuan saya tanggal 29 Januari kemarin. Tancap gas, pagi itu jalan menuju tempat les memang agak padat. Hingga saat saya melewati pertigaan yang memang selalu ramai, saya diberhentikan oleh seorang polisi, mungkin itu yang namanya polantas ya?

polisi lalu lintas

Polantas

“Selamat siang! Anda tidak menyalakan lampu sepeda motor anda” polisi itu berkata dengan didahului gerakan hormat. Dengan sedikit gugup saya menjawab “Wah iya, maaf saya lupa menyalakannya, pak!”. “Yasudah, sini ikut saya dulu!”, “Mau dibawa kemana saya, pak?”. Dengan perasaan bingung ditambah kegugupan saya, saya ikut polantas itu untuk masuk ke pos polisi.

polisi tilang“Tunjukkan STNK kamu!” dengan tegas dia menyuruh saya menunjukkan STNK. “Yah, saya ngga bawa STNK, pak.” jawab saya dengan tampang ingin dikasihani. “Kamu saya tilang dan akan disidang minggu depan!”. “WTF ! Apa-apaan ini” dalam hati saya berkata. “Tidak bisa gitu dong, pak!” lanjut saya. “Tidak bisa gimana? kamu ngga menyalakan lampu, tidak membawa STNK lagi”. “Maaf, pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi” saya memohon agar bisa dikasih keringanan, “Rumah kamu dimana?” tanya pak polisi itu, “Dekat dari sini, pak!” jawab saya singkat. “Kamu mau saya tilang atau pulang mengambil STNK?” dia kembali bertanya, seakan-akan dia punya ribuan pertanyaan. “Saya lebih memilih mengambil STNK saya kerumah, pak!” jawab saya sedikit senang, saya berpikir bahwa ini polisi yang sangat baik. “Yasudah, kamu pulang dengan cara apapun, tetapi motor saya tahan disini dulu” suara dia lebih tegas dari sebelumnya. “Tapi, pak…………” “Tidak ada tapi-tapian, ambil STNK atau kamu saya tilang”.

preman bayiSaya segera naik ojek untuk pulang kerumah mengambil STNK. Dalam perjalanan kerumah, saya bercakap-cakap dengan tukang ojek itu, panjang lebar dan saya berkata “Emang lagi sial hari ini, sebelumnya ngga pernah lewat pertigaan itu kalo mau les” dan tukang ojek itu melanjutkan “Kalo lagi sial emang begitu, de.” Ya, mungkin hari itu saya memang sangat sial. Sebelumnya saya tidak pernah lewat pertigaan jalan itu yang memang selalu ramai dan banyak polantas. Biasanya saya lewat “jalan tikus” untuk sampai ke tempat les.

Saya kembali ke pos polisi itu membawa STNK motor dengan harapan bisa bebas dari tilangan si pak polisi. Ketika sampai disana, “Ini STNK motor saya dan kartu pelajar saya, pak!” tidak lama dia mengecek STNK dan kartu pelajar saya lalu dia berkata “Kamu akan disidang minggu depan, saya kasih kamu surat tilang”. “WTFFFF! Gua udah pulang buat ngambil STNK dengan harapan bisa bebas dari tilangan si pak polisi itu dan bisa lanjut ke tempat les, gua telat ini!” dalam hati saya bicara. “Yah, kok gitu pak? Saya kan sudah bawa STNK.” jawab saya dengan tampang yang sangat melas. “Ya kamu memang membawa STNK, tapi tadi kan lampu kamu tidak nyala! Kamu lihat disini, tidak menyalakan lampu denda Rp. 500.000,-“ lanjut pak polisi sambil menunjukkan sebuah komik buku kecil yang sepertinya berisi daftar pelanggaran beserta dendanya. “Yah, pak :(“ saya sudah menyerah berdebat dengan polisi ini, saya pasrah, ini memang kesalahan saya. Tetapi beberapa saat kemudian, polisi itu berkata dengan suara agak pelan “Yaudah, sini Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah)”. “Apa-apaan ini, emak gua aja ngga pernah minta duit ke anaknya kayak gitu” lagi-lagi saya berkata dalam hati. Setelah lama bernegosiasi, akhirnya saya disuruh bayar Rp. 50.000,- jika ingin bebas dari tilangan sang polisi. Ironis memang, penegak keadilan yang seharusnya bertindak tegas justru berlaku seperti preman pasar yang meminta uang seenaknya kepada pedagang.

Saya pun membayar “denda” yang diminta oleh polisi itu karena saya dalam keadaan terjepit dan ingin cepat sampai ditempat les. Uang yang berhasil saya sisihkan sedikit demi sedikit untuk membeli kaos Kancut Keblenger dan jersey FCBarcelona itu raib seketika dan berpindah ke tangan si pak polisi yang “gagah” itu. Sebenarnya saya bisa saja menghubungi orang tua dari teman saya yang juga kebetulan polisi yang bekerja di polsek tidak jauh dari TKP supaya bisa bebas dari perkara ini, tapi saya sadari bahwa inilah hukum. Hukum itu bersifat memaksa, dan menyeluruh. Semua orang tanpa terkecuali harus tunduk kepada hukum (saya harap begitu).

polisi, tilangTapi, tidakkah polisi itu sedikit berpikir? Saya seorang pelajar yang ingin menuntut ilmu dalam keadaan terburu-buru, dan didesak untuk membayar sejumlah uang yang menurut saya itu tidak sedikit, terlebih uang itu saya sisihkan dari uang jajan saya. Bagaimana jika hal itu terjadi kepada anaknya sendiri? Uang memang “benda pembuat buta” paling ampuh. Sungguh, sejujurnya saya tidak ikhlas sekali, tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, ini juga karena kesalahan saya. Sialnya lagi, saya lupa melihat siapa nama polisi itu, ya setidaknya saya bisa mengenang “ketegasannya” dihari nanti.

Pak polisi yang terhormat, I’ve got no words to be fucking described. Pesan saya untuk pengendara motor, pakailah helm, nyalakan lampu sepeda motor anda disiang bolong sekalipun, dan bawa STNK kemanapun anda mengendarai sepeda motor anda. Dan, rajin-rajinlah menabung, setidaknya anda punya persiapan uang untuk membayar “denda” yang diminta oleh polisi macam dia.

Sumber dan referensi
  • Google images

56 Responses

  1. gue pernah denger rumor
    katanya kalo gitu tinggal minta ama polisinya “Formulir biru” entah apa namanya

    yang jelas kalo gitu, motor kita ditilang, tapi kita bayar untuk negara sebesar 20-30rb, mendingan daripada nambahin dosa nyogok polisi :p

    tapi gatau juga deh bener apa kagak

    1. Bukan hoax bro, surat itu memang ada tetapi tidak pernah dikeluarkan. Karena dengan surat itu, pelanggaran tidak boleh didenda ditempat dan kita harus menghadiri sidang dan bayar denda pada saat sidang sebesar Rp. 25.000,– tergantung pada masing-masing tempat.

  2. wah saya jug pernah tuh mas ngalamin hal ini.. emang asem banget!
    lain kali.. klo ada yang kek gitu.. bilang ja… “ok pak saya bayar Rp. 50.000 tpi saya juga akan ingat selalu nama bla bla bla (nama ci polisi)”
    biasanya dia ketir klo gitu soalnya takut dilaporin atau semacamnya.. hehee…

  3. Polisi kampung itu nama’a, pas LDK tidur…

    saran nih terima aja surat tilangan-nya, qt akui saja klo qt ceroboh walaupun kesalahan qt kecil..
    klo smua yg kna tilang serempak, pasti yg nilang jg cape (ngpain cape2 berdiri bawa priwitan stopin org yg gak nyalain lampu klo g dpt duid?? mnding diem deh di kntor gk ush tilang2 org). beda klo kita nyogok malah bkin kesempatan tuh polisi cari duit..

    klo ad alasan repotlah, gk ad wktu lah buat urus surat tilang toh skrng ud ad jasa buat urus surat tilang kan??

    dgn gini kan qt jd lebih baik n tdk ceroboh, coba bersih diri sndiri dlo yakin ad org yang ngikutin lo, dan pasti suatu saat nanti indonesia bersih

    1. Wkwkw, gua juga orang kampung huy ๐Ÿ˜€

      Iya gua juga nyesel, kenapa ngga gua terima aja tuh surat tilang :/ gara-gara buru-buru pengen les sih, jadi terpaksa dah :/

      Sip huy, mantap ๐Ÿ˜€

  4. Tilang singkatan dari Bukti Langsung. Yang artinya, bukti ketika saat dilakukan penangkapan pada suatu pelanggaran.
    Polisi itu melakukan 2 kesalahan:
    1. Melihat kasus posisinya (cerita versi si tertilang) adalah pelanggaran mengenai TIDAK MENYALAKAN LAMPU dan TIDAK MEMBAWA SURAT KENDARAAN BERMOTOR (STNK), dan TIDAK MEMBAWA SIM. Kesalahannya terletak pada hanya mengenakan 1 planggaran saja, yaitu tidak menyalakan kendaraan bermotor. Si tertilang setelah ditangkap diketahui tidak membawa STNK dan SIM, tidak bisa Polisi menyuruh mengambil STNK – nya dan semerta2 menghilangkan 1 pelanggaran ini. Dan pelanggaran tidk bawa SIM juga seolah2 dilupakan, itu polisi berlagak bego deh.

    2. Kesalahan yg ini adalah yg fatal. Kenapa mjd kesalahan yg fatal? Sebab kesalahan ini mengakibatkan cideranya dan cacatnya penegakan hukum di Negeri ini.

    Lalu, kenapa kok fatal? Karena polisi itu meminta uang di tempat. Pada hal, menurut peraturan yg baru Polisi tidak boleh meminta uang pada saat operasi lalu lintas tentang pelanggaran lalu lintas yg dilakukan oleh pengemudi kendaraan bermotor.

    Peraturan sekarang jika si Pelanggar/ tertilang menginginkan apa yg telah disita (seperti STNK, Motor, SIM, utk barang bukti persidangan di Pengadilan Negeri) oleh Polisi (Penyidik) boleh dilakukan saat itu juga (saat hari itu, setelah dilakukan pemeriksaan dan penyebutan pelanggaran dikenakan pasal dan sanksi (denda). Caranya adalah melalui penitipan uang denda melalui Banpol/ Sekarang bisa melalui Bank BRI (Bank BUMN).

    Pesan gue terhadap lo tentang kejadian yg lo tulis disini:
    1. Bersyukurlah karena lo kagak disuruh sidang, dan polisi itu ternyata mau di tusbol pake duit gocap. Dan itu gak merugikan lo secara materi dan secara energi yg lebih lagi.
    2. Bersedihlah karena 1 lagi peristiwa pencideraan hukum telah terjadi.

    Pelajari tentang tilang menilang ini di sini gan ๐Ÿ˜€
    http://kask.us/8994943

    Beruntung dah, gue dulu kena tilang juga di Cikarang, 2 pelanggaran, gak bawa STNK dan gak ngidupin lampu, tapi bawa sim, kena deh, 350ribu gan. Emang sih, sesial apapun, kalau kita ikhlas dan lurus, hati berasa tenteram gan. Maksud ku, kalo salah kita mengakui salah dan menerima konsekuensi dengan ikhlas.. Kita jd tenteram. Gitu aja sih… Hehe

  5. duh mending kena tilang deh di sidang juga gpp toh udah pernah gua sekali..

    dari pada lu bayar tuh polisi oot.
    mending duitnya buat makan.
    toh pas di sidang juga bayar denda tapi tak sebesar itu dendanya.

    lagian juga sidang itu rame” gak sendirian. gak kaya perdata gitu *sok ngerti ๐Ÿ˜

    yang gak enak tuh cuma nunggu tuh hakim sama jaksa yg ngaret. #indonesia
    sidangnya mah cuma 5 menit paling

    1. serius.. gua lama cuma gara” nunggu tuh jaksa ngaret sama lama nungguin panggilan..

      kya lu klo mo ulangan lisan aja. kan di panggil 1 1.

      pas udah di panggil mah cepet.

      ntar di tanya ma hakimnya. pelanggaranya apa.
      trus ke jaksa.
      abis itu bayar denda.
      pulang deh.

  6. makin susah di bedain ya mana polisi mana preman. lain kali minta surat tilang biru aja om jdi ga ribet2 tinggal transfer denda via atm stnk bisa di ambil di tmpt hri itu juga. klu polisinya ngotot bilang ngga ada yg biru desak terus..

  7. Wew, memamng tuh silup (baca dari belakang) memang keterlaluan, main tilang2 aja… maklum lah mereka ngembaliin modal mereka, karena daftar jadi polisi mahal… gua pernah disuruh ikut tapi malas ah, masa harus bayar 100 juta biar jadi polisi, dapet dari mana tuh, kalau udah jadi bayaran yg diterima aja gak seberapa, dapet dari mana juga buat ngembaliin uang 100 juta itu, yg dalih dengan ngembaliin modal mereka nilang dengan seenaknya, yg lebih pantes mereka jadi tukang todong aja, gak pantes jadi POLOSI

  8. Barusan Kena’ Ya, Disini Ma Tiap Hari Sampe’ Bosan saya menghadapi polisi, malah kadang2 naX mau Bayar atau di Sidang, Tapi karena saya tiap hari sekolah naik motor ya terpaksa langsung bayar aja, Polisi Memang Kamprettt

  9. Weleeh.. ceritanye sungguh Tragis Banget Mas???
    Wwkkkwk….
    Yach namanya aja Polisi Lalu lintas yang sedang Operasi. Kalo liat pengendara yang gugup dari jauh aja udah tau lo. Kalo pas kena tilang, mesti ada aja nyari kesalahan2 lain, sampek tutup pentil Ban sepeda aja diperhati’in lo… DASAR POLISI!!!
    Hingga akhirnya Si Polisi menawarkan 2 Pilihan : Surat Tilang ato Uang Damai.

    Kalo Ayas siy mending milih Surat Tilang aja deh, itu adalah pilihan yang bijak. Daripada harus memberi Uang pada Polisi yang jelas2 melakukan perbuatan yang melanggar peraturan!!!
    Malah terkadang denda tilang diPengadilan itu bisa lebih ringan dari yang diminta Polisi itu Lo MAs???
    Hweheheee… TiTi DJ aja deh!!!
    ^_^

    1. Wealaah.. baru pertama kalinya kena Tilang yach Mas??
      Hmm… Ayas aja udah kena 7 Kali tilang lo!!!
      Jiaaah… Nasip.. Nasiip… niatnya gak bakalan ditilang
      eeh.. kena Tilang juga!!!
      Wkwkwkwk….
      Ya udah deh… Ayas terpaksa ngurus SIM deh….
      Terakhir Ayas Ngurus SIM Blogger gitu, biar gak kena tilang juga!!!
      Hweheheheee,,,,

    1. Iya, tepat sekali mas. Baru-baru ini saya melepasnya dan kembali ke blogger komen, semenjak ada fitur reply (threaded comment) nya aja ๐Ÿ˜€

  10. hehehe.. turut bersedih mas.. tp ya mending bayar uang damai daripada sidang..
    kalau perlu buat laporan aja ke kantor polisi kalau tau namanya :))

  11. Walah lagi apes bener tuh Mas… ๐Ÿ˜€ udah biasalah nitip menitip di pak pulisi itu… yang penting kita ngga ngelawan, ngebantah, nurut, malah dikit bayarnya… walaupun sebenernya ngga boleh pake acara nitip segala ke pihak berwajib itu… tapi apa daya kadang kita juga butuh cepet. apalagi kalo kepepet :D. Salam kenal Mas…

  12. Kan hukum bersifat menyeluruh dan tidak pandang bulu. Pelajar atau bukan hukumannya sama.
    Hihihi…dan lebih mudah denda ditempat. Saran, tapi tidak baik. Sebaiknya waktu itu hubungi orang tua, minta bantu mereka menyelesaikan sehingga kesan “diperas” tidak muncul.

    1. Kayaknya nggak mas, apalagi jika orang tua punya koneksi si sana, yang ada malah gratis dan yang nilang diingatkan agar lain kali kalau kita yang kena supaya dibebaskan (kecuali kalau razia gabungan).

  13. wah, rekening gendut polisi ya mas? udah biasa, emang dimana2 polisi gitu, kecuali mereka yg udah punya jabatan tinggi, ambil duitnya bukan lagi dari tilangan. hehe.

  14. Wah, polisi jadi berkurang kewibawaannya di mata masyarakat nih.. saya sendiri kalo naik motor hati2 sama polisi.. takut di palak, blm punya SIM soalnya, masih 16 taun.. hehe

  15. Huft.. kalau sebut 50rb, sama saya juga pernah ditilang untuk pertama kalinya, dan kebetulan banget itu bukan tilang biasa, tapi SWEEPING SIM. padahal saya blum punya SIM. itupun saya naik motor dengan hati2 (gak nyelonong sana sini). ๐Ÿ™ ๐Ÿ™ galau banget pas setelah kejadian itu. Sumpah..

  16. Makin susah di bedain ya mana polisi mana preman. lain kali minta surat tilang biru aja om jdi ga ribet2 tinggal transfer denda via atm stnk bisa di ambil di tmpt hri itu juga. klu polisinya ngotot bilang ngga ada yg biru desak terus..

    roaming