Opini

Kerokan Saat Masuk Angin, Sugesti / Mujarab?

Kerokan, sudah tidak asing lagi di sebagian telinga orang Indonesia. Sebagian besar orang Indonesia mengetahui kalau kerokan adalah salah satu cara / teknik pengobatan masuk angin. Tetapi bukan hanya di Indonesia, beberapa negara di Asia juga mengenal kerokan, seperti di Kamboja dengan sebutan goh kyol, dan orang Vietnam menyebutnya cao giodi.

kerokan obat masuk anginKerokan bisa dibilang teknik pengobatan penghilang masuk angin secara tradisional karena cara dan alat yang dibutuhkan sangat sederhana. Kita hanya butuh satu buah uang logam sebagai alat kerok, minyak atau body lotion sebagai pelicin, dan tidak perlu keahlian khusus untuk bisa mengerok orang yang sedang masuk angin.

Kerokan di negara lain

Selain itu, di negara China yang terkenal dengan akupunturnya juga mengenal metode kerokan yang populer dengan sebutan gua sua. Hanya saja, orang China memakai batu giok sebagai alat kerok, bukan dengan kepingan uang logam.

Yakin bisa sembuh?

Berbicara soal kerokan, ada sebuah pertanyaan yang masih terbayang-bayang diotak saya, “Kerokan saat masuk angin, sugesti atau pengobatan mujarab? Apakah membahayakan?” . Karena penasarannya, pertanyaan itu pernah saya ajukan kepada salah seorang teman saya bernama Yasir. Kira-kira seperti ini pertanyaan yang saya ajukan saat bercakap-cakap dengan Yasir saat kelas 8 SMP lalu (semoga masih ingat).

Saya : “Sir, lu pernah kerokkan ngga pas masuk angin?”
Yasir : “Oh, kerokkan? Kalo kata ibu gua itu bukan nyembuhin masuk angin, justru memperparah.”
Saya : “Memperparah?” tanya saya kaget.
Yasir : “Iya, emang sih bisa bikin sembuh, tapi kalo keseringan, pori-pori kulit kita bisa makin lebar karena sering dikerok, jadi lebih gampang masuk angin kan?” jelas yasir kepada saya.
Saya : “Hmmm”.

Saat itu saya sedikit setuju dengan penjelasan Yasir, karena secara logis sepertinya memang benar jika kulit kita dikerok, maka setidaknya pori-pori kulit akan melebar, tetapi itu hanya sedikit opini yang memang masuk akal. Tidak puas dengan jawaban dari Yasir, saya juga masih punya pertanyaan. “Benarkah seperti itu? Jika benar, kenapa saya dan keluarga saya masih menggunakan teknik kerokan dan alhamdulillah sembuh? Apa itu hanya sebuah sugesti?”

Kerokan bagi saya

Jujur saja, hampir semua keluarga saya percaya bahwa kerokan dapat menghilangkan masuk angin, perut kembung, dan lain-lain. Mulai dari almarhumah nenek saya, hingga saya, kerokan seperti sudah menjadi teknik yang sudah “mendarah daging”. Itu semua karena setelah kerokan, alhamdulillah kami merasa lebih baik, tentu saja disampingi dengan meminum obat anti masuk angin. Keingintahuan saya belum berhenti sampai pertanyaan yang saya ajukan kepada teman saya itu, saya juga browsing dan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada saat kita kerokan? Alhamdulillah, setelah “berselancar” di dunia maya hari ini, saya mendapatkan jawabannya.

kerokan obat masuk anginKonon, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda badan telah kemasukan angin secara berlebihan. Makin pekat warnanya, pertanda banyak pula angin yang berdiam di tubub. Benarkah? Tentu tidak. Warna merah pertanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah permukaan kulit pecah sehingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Badan orang sehat pun akan memerah jika dikerok.

Karena itu, banyak kalangan tak meyakini kemujaraban pengobatan kerok. “Di negaranegara barat, kerokan sama sekali tak dikenal,” ujar Saptawati Bardosono, dokter dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Namun, secara medis, kerokan adalah salah satu metode memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup (vasokontiksi) menjadi menjadi semakin melebar (vasaditilasi). “Ini tak berbahaya asal tak jadi kebutuhan primer,” ujar Mulyadi, dokter dari Klinik Medizone. Jika terus-terusan kerokan, akibatnya banyak pembuluh darah kecil dan halus yang akan pecah.

Menurut ahlinya

Namun, dalam taraf normal, kerokan akan membuat penderita masuk angin merasa nyaman karena telah melepas hormon beta endofin. “Secara ilmiah, praktek sederhana ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma dingin yang memiliki gejala nyeri otot (mialga),” tandas Mulyadi. Bukan hanya itu, prinsip kerokan tak beda jauh dengan akupuntur yang menancapkan jarum dalam tubuh. Maksud Mulyadi, prinsip kerokan adalah meningkatkan temperatur dan energi pada tubuh yang dikerok. Peningkatan energi ini dilakukan melalui perangsang kulit tubuh bagian luar. Dengan cara ini, saraf penerima rangsang di otak akan menyampaikan rangsangan yang menimbulkan efek memperbaiki organ pada titik-titik meridian tubuh. Nah, pada gilirannya, arus darah di tubuh yang lancar akan menyebabkan pertahanan tubuh juga meningkat.

Kesimpulannya

Jadi, menurut anda kerokan saat masuk angin itu hanya sugesti atau memang teknik pengobatan yang mujarab? Itu hanya sugesti, sugesti dari diri juga merupakan penyembuh yang kuat. Dengan keyakinan bahwa kita akan sembuh setelah kerokan, itulah yang membuat kita merasa lebih baik setelah kerokan. Tentu saja kembali kepada diri anda sendiri, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Kalau saya sih masih percaya dengan teknik kerokan ini, karena saya merasakan sendiri hasilnya. Bagaimana dengan anda? Mau saya kerok? Haha

Sumber dan referensi
  • 88db
  • Google images

You Might Also Like

  • Arkan Azis Kusuma
    February 17, 2012 at 2:06 pm

    tetep aja ortu ane dan (ane) dikerok saat kemasukan angin. gak tau napa padahal dah tau kalo itu tuh boongan.

    tapi ane paling suka ngerok tutup gelasnya minuman berhadiah. lumayan gan sering dapet serebu :D

    • Ijal Fauzi
      February 18, 2012 at 9:00 am

      Haha, setiap orang punya keyakinan yang berbeda ya, hihi :D

  • cintahujan
    September 9, 2012 at 3:39 am

    ada ada saja.
    kalo oragan tubuh bagian dalam yang kena masuk angin gimana?
    paru2 deket jantung… kemasukan angin -_-